Partai Golkar menduga ada pihak yang sengaja mengaitkan isu konflik kepentingan dalam penetapan lokasi proyek pupuk di Fakfak, Papua Barat, dengan Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Narasi tersebut dinilai sebagai upaya untuk menjatuhkan Bahlil.
Upaya Politisasi Isu
Ketua Fraksi Partai Golkar MPR RI, Melchias Markus Mekeng, menyatakan bahwa ada pemain politik yang mencoba mempolitisir isu tersebut untuk mendegradasi Bahlil. “Jadi menurut saya, ini ada pemain-pemain politik yang coba mempolitisir yang men-downgrade Ketua Umum Partai Golkar,” kata Mekeng kepada detikcom, Jumat (23/1/2026).
Mekeng menganggap pengaitan asal daerah Bahlil, yaitu Fakfak, dengan penetapan lokasi proyek pupuk adalah keliru. Ia menjelaskan bahwa keputusan mengenai proyek strategis nasional (PSN) tidak ditentukan oleh Bahlil seorang.
Proses Penetapan Proyek Strategis Nasional
Menurut Mekeng, penetapan proyek strategis nasional melibatkan rapat terbatas yang dipimpin langsung oleh Presiden bersama para menteri koordinator, dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sebagai leading sector. “Itu yang menetapkan itu ada di dalam rapat, rapat terbatas yang dipimpin oleh presiden tentunya. Dan kalau ini proyek strategis nasional, PSN itu kan leading sektornya Menko Perekonomian. Jadi seorang Bahlil Lahadalia bukan sebagai orang yang menentukan,” jelas Mekeng.
Ia kembali menegaskan bahwa penggiringan isu tersebut merupakan upaya untuk menjatuhkan Bahlil. Mekeng menilai ada pihak yang membidik Bahlil karena jabatannya yang strategis, baik sebagai Ketua Umum Partai Golkar maupun Menteri ESDM.
“Bahlil ini kan Ketua Umum yang seksi, dia ke Menteri ESDM, strategis. Kedua, dia Ketua Umum Partai Golkar, ya pastilah ada orang yang tidak suka sama dia, coba-coba. tapi kalau menurut saya, dia kerja dengan baik dia patuh terhadap Presiden Prabowo. Kebijakan-kebijakan Pak Prabowo, dia laksanakan dengan baik,” ujarnya.
Mekeng menambahkan, “Jadi nggak ada yang salah sama dia, cuma ya karena jabatan seksi ini aja dia dikerjain ada yang ngerjain. menurut saya sih ada yang ngerjain, orang eksternal maupun internal pasti ada aja, namanya politik.”






