Abu Dhabi, Uni Emirat Arab – Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, turut hadir dalam diskusi meja bundar Zayed Award for Human Fraternity Roundtable 2026 yang diselenggarakan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada Kamis (5/2/2026). Dalam forum internasional tersebut, Megawati menyoroti isu-isu krusial seperti lingkungan, perdamaian dunia, kemanusiaan, hingga perkembangan kecerdasan buatan (AI).
Diskusi Persaudaraan Manusia dan Masa Depan
Kegiatan yang dibuka oleh Sekretaris Jenderal Zayed Award, Mohamed Abdelsalam, ini mempertemukan Megawati dengan sejumlah tokoh dunia. Ia duduk diapit oleh dua Dewan Juri Zayed Award 2026, yaitu mantan Ketua Komisi Uni Afrika, Moussa Faki Mahamat, dan mantan Presiden Dewan Eropa, Charles Michel. Diskusi meja bundar ini secara umum membahas tentang persaudaraan manusia, peran AI, serta masa depan generasi mendatang.
Acara tersebut juga dihadiri oleh para pemenang Zayed Award sebelumnya, termasuk perwakilan dari PP Muhammadiyah yang diwakili oleh Hilman Latief dan PBNU yang diwakili oleh Ulil Abshar Abdalla, yang keduanya meraih penghargaan pada tahun 2024.
Interaksi dengan Tokoh Internasional
Usai sesi diskusi, Megawati berkesempatan berinteraksi dengan beberapa tokoh yang hadir. Ia tampak akrab dengan mantan Sekjen UNESCO, Irina Bokova, yang juga merupakan Dewan Juri Zayed Award 2024. Selain itu, mantan Sekjen Persemakmuran yang juga Dewan Juri Zayed Award 2025, Patricia Scotland, turut menyapa Megawati.
Dalam agenda ini, Megawati didampingi oleh sejumlah delegasi dari Indonesia, termasuk Ketua DPP PDIP M Prananda Prabowo beserta istrinya Nancy Prananda, Ketua DPP PDIP bidang Luar Negeri Ahmad Basarah, Duta Besar Indonesia untuk Tunisia Zuhairi Misrawi, dan Dubes Indonesia untuk UEA Judha Nugraha.
Pandangan Megawati: Perdamaian, Kemanusiaan, dan AI
Menyikapi berbagai diskusi yang berlangsung, Megawati menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya perdamaian dunia dan kepedulian terhadap lingkungan. Ia menekankan bahwa manusia sejatinya hidup di satu bumi dan seharusnya mengutamakan perdamaian, bukan konflik.
“Dari semua pembicaraan yang saya dengar, memang mereka berkeinginan bahwa mereka semua merasakan bahwa bagaimana dunia ini sepertinya akan mulai melupakan sebetulnya kehidupan kita itu satu… satu bumi. Dan seharusnya mestinya sudah selesai, tidak ada perang. Yang ada harusnya diteruskan dengan perdamaian. Dan itu tentunya juga masuk ke dalam peran wanita,” ujar Megawati.
Lebih lanjut, Megawati mengaitkan isu kemanusiaan dengan nilai-nilai Pancasila. Ia berpendapat bahwa nilai-nilai Pancasila, terutama sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan peri kemanusiaan, bersifat universal dan selaras dengan konsep Human Fraternity.
Perkembangan pesat teknologi artificial intelligence (AI) juga menjadi sorotan Megawati. Ia mengakui kemajuan yang dibawa AI, namun juga menyuarakan kekhawatiran akan potensi ancaman jika tidak diimbangi dengan perlindungan hukum yang memadai. Megawati mencontohkan kemudahan AI meniru suara seseorang yang dapat disalahgunakan untuk penipuan.
“Karena ternyata sudah banyak juga dari kalangan mereka mengatakan itu bagus, tetapi yang sangat dikhawatirkan kalau tidak ada sebuah perlindungan yang nyata, tentunya artinya itu harus melalui masalah hukum, maka takutnya itu malah bisa menjadi merusak,” jelasnya.
Megawati mendorong lembaga internasional seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk turun tangan dalam mengatasi persoalan yang timbul akibat perkembangan AI, demi terciptanya perlindungan melalui hukum internasional.
“Dengan demikian tentunya ada perlindungan melalui hukum internasional, di mana yang namanya AI itu tidak bisa bekerja seperti sekarang ini,” tegas Megawati.
Ia bersyukur bahwa banyak pihak di forum Zayed Award memiliki pandangan serupa mengenai pentingnya mengatur perkembangan teknologi demi masa depan dunia.






