Presiden ke-5 RI, Megawati Soekarnoputri, memperkenalkan putrinya sekaligus Ketua DPR RI, Puan Maharani, saat menyampaikan pidato di Princess Nourah Bint Abdulrahman University (PNU) di Riyadh, Arab Saudi. Megawati menekankan bahwa perempuan harus memiliki kemampuan serba bisa, namun tetap tidak melupakan kodratnya sebagai ibu dan istri.
Pernyataan tersebut disampaikan Megawati saat menerima penghargaan gelar kehormatan dari PNU pada Senin (9/2/2026). Ia mengawali pidatonya dengan mengutip Pasal 27 ayat 1 UUD 1945 mengenai kesamaan kedudukan warga negara di hadapan hukum. Menurut Megawati, konstitusi Indonesia tidak membedakan gender maupun status sosial, memberikan hak yang sama bagi semua warga negara.
“Ia adalah pernyataan konstitusional bahwa kesetaraan dalam hukum dan pemerintahan adalah prinsip dari dasar negara Pancasila, terutama sila kelima: ‘Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam pemerintahan bukanlah kebijakan tambahan, melainkan perintah konstitusi,” ujar Megawati.
Selanjutnya, Megawati memperkenalkan Puan Maharani kepada para hadirin yang mengikuti acara penganugerahan gelar doktor kehormatan (honoris causa) di PNU. “Sebagai sebuah contoh, bukan karena dia putri saya. Tolong berdiri. Beliau putri saya, anak terakhir. Satu-satunya perempuan dan saya ajarkan bahwa yang namanya perempuan itu harus bisa segalanya,” kata Megawati.
Namun, Megawati mengingatkan pentingnya perempuan untuk tetap menjalankan kodratnya. “Tetapi tentu kita tidak boleh melawan kodrat maka kita tetap akan menjadi seorang ibu, istri dari keluarga kita. Beliau bernama Puan Maharani dan sekarang tanggung jawabnya menjadi Ketua DPR atau parlemen di Republik Indonesia,” imbuhnya.
Megawati juga mengutip pemikiran Bung Karno dalam buku Sarinah yang ditulis pada tahun 1947. Sarinah, yang merupakan pengasuh Bung Karno saat kecil, menjadi simbol penting dalam pemikiran Soekarno mengenai peran perempuan.
“Dalam Sarinah, Bung Karno menyampaikan satu pernyataan yang sangat tegas dan visioner. Beliau menulis bahwa perempuan adalah tiang negara. Maknanya jelas: apabila perempuan kuat, bermartabat, dan berdaya, maka negara akan berdiri tegak. Sebaliknya, apabila perempuan dilemahkan dan dipinggirkan, maka negara sesungguhnya sedang merapuhkan fondasinya sendiri,” jelas Megawati.
Menurut Megawati, pemikiran Soekarno menempatkan perempuan bukan sebagai warga kelas dua, melainkan sebagai elemen vital dalam perjuangan kemanusiaan dan kebangsaan. “Karena itu, Sarinah bukan sekadar buku tentang perempuan. Ia adalah teks ideologis negara, yang menegaskan bahwa kemerdekaan politik tidak akan pernah utuh, tanpa kemerdekaan perempuan,” tegasnya.
Megawati juga mengenang jasa para tokoh perempuan dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, termasuk ibundanya, Fatmawati Soekarno. “Ibu saya sendiri, Fatmawati Soekarno adalah seorang pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia, beliaulah tokoh yang dengan berani menjahit sendiri…. bendera bangsa kami pada saat dikumandangkannya proklamasi kemerdekaan bangsa kami pada tanggal 17 Agustus 1945,” kata Megawati dengan nada terharu sambil menitikkan air mata.






