JAKARTA, JUMAT (9/1/2026) – Tumpukan sampah yang menggunung di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, mulai diangkut secara masif. Pihak pengelola menargetkan seluruh sampah tersebut dapat terangkut habis dalam kurun waktu lima hari ke depan.
Target Pengangkutan
Manajer Pasar Induk Kramat Jati, Agus Lamun, menjelaskan bahwa sejak hari Kamis (8/1/2026), sebanyak 25 armada telah dikerahkan untuk mengangkut sampah. “Kemarin itu di hari Kamis ini sudah ada 25 armada, dan sudah dilakukan 31 ritase pengangkutan ke Pasar Induk Kramat Jati. Nah, kita berharap, kalau konsistensi 25 armada ini, maka bisa dipastikan lima hari ke depan, lima hari ke depan, maka penumpukan sampah ini akan sudah terlihat lebih menyusut dan lebih mantap,” kata Agus kepada wartawan di Pasar Induk Kramat Jati, Jumat (9/1/2026).
Akar Masalah Penumpukan Sampah
Agus memaparkan bahwa penumpukan sampah di pasar induk terbesar di Jakarta ini telah terjadi sejak November 2025. Penyebab utamanya adalah berkurangnya jumlah armada pengangkut sampah dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). “Belakangan di bulan terakhir ini pengiriman armada itu hanya sekitar 7-8 armada. Nah, oleh karenanya, terjadi deposit sampah,” ujar Agus.
Setiap harinya, aktivitas pedagang yang berlangsung selama 24 jam mampu menghasilkan sampah sebanyak 120 hingga 150 ton. Mayoritas sampah tersebut merupakan jenis organik, yang rentan membusuk jika tidak segera diangkat.
Dampak Bau Busuk
Pembusukan sampah organik ini menimbulkan bau tidak sedap yang sangat mengganggu aktivitas para pedagang maupun masyarakat di sekitar pasar. “Sampah kita ini sebenarnya sampah organik. Ketika tidak diangkut 2-3 hari maka akan terjadi pembusukan inilah kemudian yang menyebabkan ketidaknyamanan karena bau. Ya, yang dirasakan oleh baik para pedagang maupun masyarakat yang ada di sekitar,” tutur Agus.






