Berita

Siswa SD di NTT Tewas Gantung Diri, KPAI Soroti Faktor Mental dan Ekonomi

Advertisement

Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyoroti kasus tragis seorang siswa kelas IV sekolah dasar (SD) di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang ditemukan tewas gantung diri. KPAI menekankan pentingnya kepastian penyebab kematian anak tersebut.

“Terkait dengan kasus ini KPAI turut prihatin ya, karena memang kami fokus di anak mengakhiri hidup sejak 3 tahun yang lalu dan ini juga terkait dengan resiliensi yang terjadi pada anak. Nah, kami memastikan bahwa anak yang mengakhiri hidup ini kita sebut dengan anak korban dia harus mendapatkan haknya untuk mendapatkan kepastian penyebab kematiannya,” kata Komisioner KPAI, Diyah Puspitarini, saat dihubungi, Rabu (4/2/2026).

KPAI masih menunggu hasil penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian. Lembaga ini juga mendorong agar keluarga korban mendapatkan pendampingan dari pemerintah untuk menghindari stigma negatif terhadap anak.

“Nah, ini wewenangnya di kepolisian jadi meskipun ada informasi terkait dengan anak tidak bisa beli buku atau pena itu memang mesti didalami lagi biar kita serahkan ke pihak berwajib sampai nanti ada kejelasan ya, penyebab kematiannya,” ujar Diyah. “Kemudian, jangan sampai juga anak dapat stigma yang negatif. Nah kami memastikan juga pendampingan kepada keluarga korban, terutama di sini UPDT PPA, kemudian juga dinas pendidikan dan juga dinas sosial karena memang hak ini mendapatkan perlindungan khusus, memang harus mendapatkan bantuan sosial dan perlindungan hukum,” sambungnya.

Data Kasus Anak Mengakhiri Hidup

Berdasarkan data KPAI, sepanjang tahun 2025 tercatat ada 26 kasus anak yang mengakhiri hidup di seluruh Indonesia. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Kalau data di KPAI tahun 2025 itu ada 26 kasus anak mengakhiri hidup, memang ini jauh lebih turun, alhamdulillah ya, upaya kita untuk menyadarkan banyak pihak berhasil. Kemudian di tahun ini 2026 awal ini sudah ada tiga kasus bulan Januari dan ini di bulan Februari begitu,” ungkapnya.

Faktor Kesehatan Mental hingga Ekonomi

Diyah Puspitarini menjelaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat menyertai kasus anak mengakhiri hidup, selain dari kesehatan mental. Faktor-faktor tersebut meliputi pola pengasuhan, kondisi ekonomi, hingga perundungan (bullying) di lingkungan sekolah.

“Nah, apakah ini kaitannya dengan kesehatan mental? Tentu saja, tetapi perlu kita dalami lebih lanjut karena di kajian kami di KPAI penyebab anak mengakhiri hidup ini faktor yang utama yang pertama bullying, yang kedua pengasuhan, yang ketiga faktor ekonomi dan yang keempat faktor asmara gitu ,” kata Diyah.

Ia menambahkan, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah ada kaitan dengan perundungan atau pola pengasuhan di rumah. Faktor ekonomi juga diakui sebagai salah satu penyebab.

“Kalau ini perlu diteliti lebih lanjut apakah ada kaitannya dengan bullying , pengasuhan di rumah? Nah, kalau ekonomi sudah pasti iya, tapi kan lebih baik ketika kita betul tahu akar permasalahannya,” tambahnya.

Advertisement

Pemerintah melalui berbagai kementerian terkait telah berkoordinasi untuk menangani kasus ini. KPAI bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikdasmen) serta Kementerian Sosial (Kemensos) akan menelusuri lebih lanjut dugaan penyebab kematian anak tersebut.

“Pemerintah, kami, sudah koordinasi dengan Irjen Kemendikdasmen, kemudian juga Kemensos ya agar turun di kasus ini. Kemudian, juga kita cek, kita cek di sekolah apakah memang anak harus beli buku dan lain sebagainya,” katanya.

Surat Perpisahan untuk Ibu

Sebelumnya, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan saat mengevakuasi YBR (10), siswa kelas IV SD yang tewas gantung diri di Kecamatan Jerebuu, Ngada, NTT. Surat tersebut ditulis korban dalam bahasa daerah Bajawa dan ditujukan kepada ibunya.

Salah satu kalimat dalam surat tersebut berisi ungkapan kekecewaan korban terhadap ibunya yang disebut pelit. Selebihnya, surat itu berisi ungkapan perpisahan.

Berikut isi surat YBR kepada ibunya:

  • Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti)
  • Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)
  • Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)
  • Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)
  • Molo Mama (Selamat tinggal mama)

Kepala Seksi (Kasi) Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, membenarkan keaslian surat tersebut. Hingga kini, penyebab kekecewaan YBR terhadap ibunya masih belum diketahui secara pasti.

Beredar informasi bahwa korban kecewa karena ibunya tidak mampu membelikan buku tulis dan pena. Kepala Desa Naruwolo, Dion Roa, menjelaskan bahwa pada malam sebelum kejadian, korban YBR sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli perlengkapan sekolah tersebut. Namun, permintaan itu tidak dapat dipenuhi karena kondisi ekonomi keluarga yang sulit.

“Menurut pengakuan ibunya permintaan itu korban minta (uang beli buku tulis dan pulpen) sebelum meninggal,” ungkap Dion Roa, Selasa (3/2).

Advertisement