Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letnan Jenderal TNI Suharyanto mengungkapkan bahwa sejumlah wilayah di Indonesia kini rentan terhadap bencana, salah satunya disebabkan oleh alih fungsi lahan. Menurutnya, fenomena ini turut menjadi faktor pemicu bencana yang terjadi di Sumatera.
Penurunan Dampak Bencana, Lalu Meningkat Tajam
Suharyanto menyampaikan hal tersebut dalam rapat kerja bersama Komisi VIII DPR di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, pada Selasa (3/2/2026). Ia memaparkan upaya BNPB dalam menekan dampak bencana di Indonesia. “Dari tahun 2021-2023, ada penurunan yang cukup signifikan, tetapi di tahun 2024 meningkat karena waktu itu terdapat bencana-bencana yang tidak bisa diprediksi, yaitu meletusnya Gunung Lewotobi Laki-laki, kemudian juga terjadinya banjir galodo di Sumatera Barat,” kata Suharyanto.
Ia menambahkan, bencana tersebut menimbulkan korban jiwa yang cukup besar serta kerusakan infrastruktur dan rumah masyarakat. Bencana besar kembali terjadi pada 25-26 November 2025, yang melanda tiga provinsi di Sumatera. Peristiwa ini, kata dia, menyebabkan lonjakan dampak bencana secara drastis.
“Ini meningkat lagi dan tanggal 25-26 November 2025 yang lalu terjadi bencana yang besar di tiga provinsi di Sumatera. Ini mengakibatkan dampak yang tiga tahun dari tahun 2021 sampai 2023 bisa dikurangi, ini meningkat secara tajam dan drastis,” jelasnya.
Alih Fungsi Lahan dan Penurunan Daya Dukung Lingkungan
Suharyanto menegaskan bahwa selain faktor cuaca ekstrem, meningkatnya kerentanan lingkungan akibat alih fungsi lahan juga menjadi penyebab utama. “Ini akibat karena salah satunya di samping cuaca yang ekstrem, juga ternyata beberapa wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini sudah sangat rentan menghadapi bencana karena alih fungsi lahan serta menurunnya daya dukung dan daya tahan lingkungan,” ujarnya.
Bencana Hidrometeorologi Basah Mendominasi
Lebih lanjut, Suharyanto menjelaskan bahwa bencana hidrometeorologi basah masih mendominasi di Indonesia. Jenis bencana tersebut meliputi banjir, banjir bandang, hingga tanah longsor.
“Kami punya data bahwa beberapa tahun terakhir di samping banjir dan banjir bandang, ternyata juga tanah longsor ini sekarang menjadi bencana yang harus kita perhatikan secara lebih seksama,” kata dia.
Berdasarkan data BNPB, sepanjang tahun 2025 tercatat 2.009 kejadian bencana hidrometeorologi basah. Dari jumlah tersebut, 1.353 orang meninggal dunia dan 183 orang hilang. “(Sebanyak) 330 kali di antaranya longsor. Ini longsor juga korbannya cukup besar yaitu 237 meninggal dunia dan 31 hilang, sehingga ini perlu kami sampaikan kepada bapak-ibu bahwa ke depan mungkin menghadapi bencana longsor ini juga menjadi prioritas yang harus kita perhatikan bersama,” tuturnya.






