Jakarta – Indonesia akan mengemban amanah sebagai Presiden Dewan Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2026. Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menilai mandat ini menjadi ujian bagi kontribusi substantif Indonesia dalam isu-isu kemanusiaan global.
Ujian Kepemimpinan Indonesia di Dewan HAM PBB
Bamsoet menekankan bahwa Dewan HAM PBB berfungsi sebagai ruang advokasi, konsensus, dan perhatian internasional terhadap berbagai persoalan HAM dunia. Oleh karena itu, Indonesia diharapkan mampu memanfaatkan presidensinya untuk memainkan peran yang signifikan, terutama dalam mengatasi konflik kemanusiaan dan ketimpangan relasi kekuasaan antarnegara.
“Peran apa yang bisa dimainkan Indonesia di Dewan HAM untuk mencegah negara besar melakukan tindakan unilateral terhadap negara-negara kecil dan lemah,” ujar Bamsoet dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026).
Terpilihnya Indonesia sebagai Presiden Dewan HAM PBB tahun 2026 merupakan kali pertama sejak lembaga tersebut berdiri pada 2006. Hal ini menandai meningkatnya kepercayaan dunia internasional terhadap peran, konsistensi, dan kepemimpinan Indonesia dalam isu-isu HAM.
Peran Sentral Presiden Dewan HAM PBB
Dewan HAM PBB merupakan forum utama PBB yang menangani isu HAM di seluruh dunia, dengan 47 negara anggota dari berbagai kawasan. Presiden Dewan HAM PBB memegang peran sentral dalam memimpin sidang-sidang resmi, mengoordinasikan agenda kerja, serta menjembatani perbedaan pandangan antarnegara dalam isu HAM yang kerap sensitif dan kompleks.
Bamsoet mengapresiasi kepercayaan dunia internasional tersebut. “Kepercayaan dunia ini menunjukkan Indonesia dipandang sebagai negara yang mampu menjembatani perbedaan, merawat dialog, serta mendorong penyelesaian isu HAM secara adil dan berimbang. Ini merupakan hasil dari diplomasi panjang dan kerja konsisten Indonesia dalam memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di tingkat dunia,” katanya.
Tantangan Global di Tengah Kepemimpinan Indonesia
Ketua DPR RI ke-20 ini menuturkan, Indonesia akan memimpin Dewan HAM PBB di tengah situasi global yang diwarnai konflik bersenjata, krisis kemanusiaan, serta meningkatnya tantangan terhadap kebebasan sipil dan hak kelompok rentan.
Data PBB menunjukkan sepanjang tahun 2024-2025, Dewan HAM PBB menangani puluhan resolusi terkait konflik di berbagai kawasan, mulai dari Timur Tengah, Afrika, hingga Eropa Timur. Isu lintas negara seperti hak pengungsi, dampak perubahan iklim terhadap HAM, dan penggunaan teknologi digital yang berpotensi melanggar privasi dan kebebasan individu juga menjadi perhatian.
“Indonesia berada pada posisi yang tidak mudah. Di satu sisi, harus menjaga prinsip universal HAM. Di sisi lain, harus mampu merangkul perbedaan pendekatan dan kepentingan politik negara-negara anggota. Di sinilah pengalaman Indonesia sebagai bridge builder diuji,” jelas Bamsoet.
Harapan Bamsoet untuk Kontribusi Indonesia
Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini berharap Indonesia mampu memanfaatkan mandat ini untuk memperkuat dialog antar peradaban, mendorong kerja sama internasional yang lebih adil, serta memastikan Dewan HAM PBB tetap menjadi forum yang dipercaya dalam melindungi martabat manusia di seluruh dunia.
“Indonesia memiliki modal sejarah diplomasi, nilai Pancasila, serta pengalaman sebagai negara demokrasi besar di dunia. Dengan bekal itu, Indonesia diharapkan mampu menjalankan peran sebagai Presiden Dewan HAM PBB secara bermartabat dan membawa kontribusi nyata bagi perdamaian serta keadilan dunia,” pungkas Bamsoet.






