Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Yandri Susanto mendorong agar desa dapat bertransformasi menjadi pusat ekonomi yang menarik bagi generasi muda. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan anak muda desa pada peluang kerja di perkotaan.
Inovasi Desa Tematik dan Peluang Ekonomi
Yandri menjelaskan bahwa desa dapat menjadi sumber utama berbagai kebutuhan, mulai dari telur, sayuran, hingga hasil perikanan seperti lele. Ia mengusulkan konsep desa tematik yang fokus pada komoditas unggulan seperti kemiri dan kopi, yang semuanya bersumber dari desa.
“Sekarang ada MBG, perlu telur banyak, sayur banyak, desa (sediakan). Perlu lele banyak, maka saya buat desa tematik, perlu kemiri, kopi, semuanya dari desa, jadi semuanya kita gerakkan. Jadi insyaallah, dengan begitu, artinya kita menciptakan gula-gula di desa, sehingga orang di desa tidak tertarik di kota,” ujar Yandri saat berbincang dengan detikcom, Selasa (13/1/2026).
Mengembalikan Potensi Anak Muda ke Desa
Politikus Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga berupaya mengajak kembali anak muda desa yang kini bekerja di kota untuk kembali membangun kampung halaman. Ia meyakinkan bahwa potensi pendapatan di desa dapat menyaingi, bahkan mengalahkan, pendapatan di perkotaan.
“Justru saya sekarang mengusahakan anak-anak muda yang telanjur di kota, ayuk pulang di desa, boleh tinggal di desa tapi pendapatan mengalahkan orang kota,” ucap Yandri.
Ia mengungkapkan bahwa beberapa warga desa kini mampu meraup pendapatan puluhan juta rupiah per bulan, menunjukkan bahwa peluang ekonomi di desa sangat terbuka lebar bagi kaum muda.
Menghapus Stigma Petani dan Peran Teknologi
Yandri juga memiliki strategi untuk mengubah stigma negatif terhadap profesi petani. Ia mengusulkan penggunaan jabatan seperti CEO atau Direktur Utama (Dirut) untuk memberikan citra yang lebih modern dan menarik.
Sebagai contoh, Yandri menceritakan tentang bisnis petelur ayam yang telah mengadopsi teknologi canggih. Bisnis ini, yang melibatkan ribuan petani, menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengendalikan suhu kandang secara jarak jauh.
“Nanti saya bawa anak muda semua, dia punya teknologi canggih, jadi ayam petelur sama pedaging itu udah kayak ojol, dia punya AI, pengendali jarak jauh, misal dia kendalikan suhu kandang ayam itu bisa. Mereka sekarang punya 80 juta ayam, basisnya rakyat, mereka kerja sama dengan 50 ribu petani ayam petelur dan pedaging,” jelasnya.
Melalui program ini, petani yang tidak memiliki modal dan ilmu yang memadai akan difasilitasi. Mereka hanya perlu menyiapkan lahan, sementara modal, teknologi, dan pasar akan disediakan oleh pihak terkait. “Nah, ini yang saya lakukan, jadi petani yang nggak punya modal dan ilmunya saya sambungkan dengan para pihak ini, mereka petani cuma siapkan lahan, modal disiapkan, pasar disiapkan, marginnya sangat bagus,” sambungnya.
Upaya ini diharapkan dapat mendorong transformasi ekonomi desa dan memberikan prospek karier yang menjanjikan bagi generasi muda.






