Menteri Luar Negeri Sugiono memberikan klarifikasi mengenai Traktat Keamanan Bersama yang baru saja diteken oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese. Sugiono menegaskan bahwa perjanjian tersebut bukanlah sebuah pakta militer, melainkan hasil dari konsultasi mendalam antara kedua negara yang berlandaskan hukum internasional dan penghormatan terhadap kedaulatan masing-masing.
Bukan Hal Baru, Mengacu pada Sejarah
Sugiono menjelaskan bahwa perjanjian ini bukanlah inisiatif yang sepenuhnya baru. Ia merujuk pada traktat serupa yang pernah ditandatangani antara Indonesia dan Australia pada Desember 1995 oleh Presiden ke-2 RI Soeharto dan PM Australia ke-24 Paul Keating. “Yang kalau ditinjau dari sisi historisnya, perjanjian ini bukanlah merupakan sesuatu yang baru, modelnya juga kita mengambil model dari apa yang disebut Lombok Treaty tadi disampaikan di tahun ’95,” ujar Sugiono di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat (6/2/2026).
Perjanjian ini akan menjadi forum konsultasi untuk membahas isu-isu keamanan bersama yang menjadi perhatian kedua negara.
Fokus pada Konsultasi, Bukan Pertahanan Bersama
Lebih lanjut, Sugiono menekankan bahwa tidak ada kesepakatan mengenai ancaman terhadap satu negara yang akan dianggap sebagai ancaman bersama bagi negara lain. “Ini bukan merupakan pakta, ini bukan merupakan, bukan pakta pertahanan, bukan pakta militer gitu. Tidak ada yang kemudian seperti yang tadi disampaikan bahwa ancaman terhadap satu negara merupakan dipersepsikan sebagai bahaya juga atau bagi negara yang lain, tidak seperti itu. Ini adalah forum konsultasi tentang situasi keamanan di wilayah,” tegasnya.
Membangun Dialog Rutin untuk Stabilitas Regional
Traktat Keamanan Bersama ini akan memfasilitasi berbagai forum konsultasi bilateral maupun multilateral yang sudah berjalan. Tujuannya adalah untuk membangun ruang dialog yang rutin guna saling bertukar pandangan mengenai situasi keamanan dan kepentingan strategis kedua negara. Sugiono membandingkannya dengan forum konsultasi yang ada di ASEAN, pertemuan Menteri Luar Negeri, pertemuan Leaders, hingga Summit, serta konsultasi bilateral dengan negara lain seperti Singapura, Jepang, dan Tiongkok.
“Kita ini saling, saling bicara lah,” imbuhnya.
Kolaborasi Penting di Tengah Dinamika Global
Dalam konteks global yang dinamis, Sugiono menekankan pentingnya kolaborasi antarnegara. Indonesia dan Australia diharapkan dapat memiliki pemahaman yang sama terhadap perkembangan global. “Oleh karena itu seperti yang disampaikan oleh Pak Presiden, kita ingin jadi tetangga yang baik. Oleh karena itu ya kita saling membicarakan tantangan-tantangan yang kita hadapi, bagaimana mengatasi tantangan-tantangan tersebut dan bagaimana bekerja sama untuk bisa mengambil sesuatu yang baik dari situasi yang ada sekarang,” pungkas Sugiono.






