Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan kekhawatiran mendalam mengenai dinamika geopolitik global yang berpotensi memicu Perang Dunia III. Menanggapi hal tersebut, Kapoksi NasDem Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Amelia Anggraini, menilai pernyataan SBY sebagai sebuah alarm pencegahan, bukan pemicu kepanikan.
Pernyataan SBY sebagai Alarm Pencegahan
Amelia Anggraini menyatakan rasa hormatnya terhadap pandangan SBY sebagai mantan Presiden RI dan negarawan yang memiliki rekam jejak panjang dalam isu perdamaian dan keamanan internasional. Ia berpendapat bahwa kekhawatiran SBY atas eskalasi konflik yang lebih luas seharusnya dibaca sebagai peringatan untuk memperkuat upaya de-eskalasi.
“Saya menghormati peringatan Bapak Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Presiden RI ke-6 dan juga negarawan yang puluhan tahun menekuni isu perdamaian dan keamanan internasional. Kekhawatiran beliau soal risiko eskalasi menuju konflik yang lebih luas patut dibaca sebagai alarm pencegahan, bukan untuk menambah kepanikan, tetapi untuk memperkuat ikhtiar de-eskalasi,” kata Amelia kepada wartawan, Senin (19/1/2026).
Peran Aktif Kementerian Luar Negeri
Lebih lanjut, Amelia menekankan pentingnya peran proaktif Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI dalam menyuarakan penghormatan terhadap hukum internasional. Ia juga menyoroti perlunya pemerintah memastikan perlindungan bagi Warga Negara Indonesia (WNI) di luar negeri.
“Terkait PBB, saya melihat Kemlu RI dan pemerintah memang perlu lebih proaktif mendorong langkah-langkah strategis melalui jalur multilateral, mulai dari penguatan diplomasi pencegahan, mendorong forum-forum darurat yang relevan,” ujar Amelia.
Ia menambahkan, langkah-langkah tersebut bertujuan untuk memperluas ruang dialog sebelum kesempatan pencegahan semakin sempit, sejalan dengan peringatan SBY. “Memastikan perlindungan warga sipil dan akses kemanusiaan serta menegakkan penghormatan pada hukum internasional. Tujuannya jelas memperlebar ruang dialog sebelum ‘ruang dan waktu’ pencegahan makin sempit seperti yang diingatkan Pak SBY,” sambungnya.
Penguatan Fondasi Domestik
Anggota Komisi I DPR RI ini juga menegaskan bahwa dorongan Indonesia untuk perdamaian di kancah internasional harus dibarengi dengan penguatan fondasi di dalam negeri. Amelia sejalan dengan penekanan Menteri Luar Negeri Sugiono mengenai pentingnya kebijakan luar negeri yang dimulai dari dalam negeri.
“Namun dorongan ke PBB itu harus berjalan seiring penguatan fondasi di dalam negeri. Saya sejalan dengan penekanan Menlu Sugiono bahwa foreign policy begins at home,” tutur Amelia.
Ia menjelaskan bahwa kebijakan luar negeri Indonesia akan menjadi kuat jika ketahanan nasional, stabilitas sosial, ekonomi, ketahanan energi-pangan, kesiapsiagaan perlindungan WNI, dan koordinasi lintas lembaga benar-benar siap. Hal ini akan memungkinkan Indonesia mendorong perdamaian secara bebas aktif, kredibel, dan berorientasi hasil.
Kekhawatiran SBY tentang Perang Dunia III
Sebelumnya, Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengungkapkan kecemasannya melalui akun X-nya, @SBYudhoyono, pada Senin (19/1/2026). Ia membandingkan situasi global saat ini dengan periode menjelang Perang Dunia I dan Perang Dunia II.
“Tiga tahun ini, saya mengikuti perkembangan dunia. Terlebih dinamika global bulan-bulan terakhir ini. Sebagai seseorang yang puluhan tahun memperhatikan dan mendalami geopolitik, perdamaian dan keamanan internasional, serta sejarah peperangan dari abad ke abad, terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia III,” tulis SBY.
SBY menilai sangat mungkin Perang Dunia III terjadi, meskipun ia tetap percaya hal tersebut bisa dicegah. Namun, ia mengingatkan bahwa ruang dan waktu untuk pencegahan semakin sempit.
“Sangat mungkin Perang Dunia III terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day , ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit. Situasi dunia menjelang terjadinya Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945) memiliki banyak kesamaan dengan situasi saat ini,” jelasnya.
Ia mencontohkan kesamaan tersebut seperti munculnya pemimpin yang haus perang, terbentuknya persekutuan negara yang saling berhadapan, pembangunan kekuatan militer besar-besaran, serta geopolitik yang memanas. SBY juga mengamati bahwa sejarah mencatat, meskipun ada tanda-tanda nyata bakal terjadinya perang besar, kesadaran dan langkah pencegahan seringkali tidak memadai.






