Berita

Prabowo Perintahkan Evaluasi BUMN, PKB Sambut Momentum Bersih-bersih di 2026

Advertisement

Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang dipimpin oleh Rosan Roeslani untuk segera melakukan perbaikan tata kelola pada badan usaha milik negara (BUMN). Instruksi ini muncul menyusul adanya temuan bahwa BUMN masih menghadapi berbagai persoalan.

Dukungan PKB untuk Evaluasi Kinerja BUMN

Menanggapi hal tersebut, Kapoksi PKB Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Presiden Prabowo. Ia melihat instruksi ini sebagai momentum penting untuk melakukan bersih-bersih di lingkungan BUMN pada awal tahun 2026.

“Presiden Prabowo menyuarakan kegelisahan rakyat. Tidak masuk akal, perusahaan merugi tapi elitnya tetap merasa berhak atas bonus. Ini bukan hanya soal keuangan negara, tapi soal etika kepemimpinan,” ujar Rivqy kepada wartawan pada Rabu (14/1/2026).

Rivqy menekankan bahwa BUMN bukanlah perusahaan pribadi dan setiap pimpinan di dalamnya harus melakukan introspeksi diri, bukannya menuntut penghargaan. “BUMN bukan perusahaan pribadi. Setiap rupiah yang hilang adalah uang rakyat. Kalau rugi, yang pertama dilakukan seharusnya introspeksi, bukan justru menuntut penghargaan. Ini sekaligus menjadi evaluasi kinerja BUMN di awal tahun 2026,” tambahnya.

Pemimpin BUMN yang Bertanggung Jawab

Lebih lanjut, legislator dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menyoroti kebutuhan BUMN akan pemimpin yang berani bertanggung jawab dan memiliki rasa malu ketika menghadapi kegagalan. Ia berharap kritik dari Presiden Prabowo dapat menjadi pemicu untuk melakukan evaluasi menyeluruh.

“BUMN tidak akan maju hanya dengan slogan transformasi. Ia butuh pemimpin yang berani bertanggung jawab, tahu malu ketika gagal, dan siap dievaluasi secara objektif,” tegas Rivqy.

“Kritik Presiden Prabowo harus dijadikan momentum bersih-bersih. Yang profesional kita dukung, yang gagal tapi tak mau bertanggung jawab harus berani dievaluasi, bahkan diganti,” sambungnya.

Kritik Pemberian Tantiem di BUMN yang Merugi

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto telah melontarkan kritik tajam terhadap kinerja sejumlah direksi BUMN yang dinilai tidak profesional dan tidak memiliki orientasi pengabdian kepada negara. Kritikan ini secara spesifik menyoroti praktik pemberian tantiem (bonus) meskipun perusahaan sedang mengalami kerugian.

Prabowo bahkan tidak segan menyebut pemberian tantiem dalam kondisi merugi sebagai tindakan yang tidak tahu malu dan sulit diatur, atau dalam istilah Jawa disebut ‘ndableg’.

Advertisement

“Saya beri tugas kepada Kepala Danantara dan beberapa menteri-menteri yang bertanggung jawab untuk membersihkan semua BUMN. BUMN sangat banyak, banyak yang rugi. Sudah rugi, minta tantiem lagi, nggak tahu malu, ndableg menurut saya,” ungkap Prabowo saat acara peresmian RDMP Balikpapan yang disiarkan secara virtual, seperti dilansir dari detikFinance pada Senin (12/1/2026).

Tawaran Mundur bagi Direksi yang Tidak Setuju

Presiden Prabowo juga dengan tegas mempersilakan para direksi dan komisaris BUMN yang tidak setuju dengan penghapusan tantiem untuk segera mengundurkan diri. Ia beralasan bahwa masih banyak individu kompeten yang siap mengisi posisi tersebut.

“Kalau nggak mau, kalau nggak sanggup mengabdi dengan penghasilan yang tersedia, berhenti saja, segera minta berhenti. Banyak yang siap gantikan. Saya percaya, banyak yang siap gantikan,” tegas Prabowo.

Menurutnya, kondisi ini jauh lebih baik daripada mempertahankan posisi puncak di BUMN namun melakukan kecurangan demi keuntungan pribadi, terutama jika kecurangan tersebut merugikan perusahaan dan negara.

“Selama ini banyak di posisi manajemen, di posisi kritis, membohongi atasan, menipu atasan, menipu Presiden untuk mencari keuntungan pribadi. Sekarang harus hentikan seperti itu,” serunya.

Pentingnya Menjaga Kekayaan Negara

Prabowo kembali menegaskan pentingnya menjaga kekayaan negara demi memperkuat bangsa, menghilangkan kemiskinan dan kelaparan, serta mengejar kemajuan industri dan teknologi di tengah persaingan global yang ketat.

“Kita harus benar-benar menjaga kekayaan negara karena kita butuh itu untuk memperkuat bangsa kita, menghilangkan kemiskinan, menghilangkan kelaparan, mengejar industri, mengejar teknologi untuk kita hadapi tahun-tahun yang akan datang. Persaingan global sekarang sangat ketat. Kalau kita tidak kuat, tapi kita kaya, bisa-bisa kekayaan kita direbut. Karena itu, kita harus bekerja keras,” pungkas Prabowo.

Advertisement